PUKULAN HELM YANG MENAMPAKKAN WAJAH ASLI INSTITUSI
Sore itu di Tual, seorang ibu kehilangan anaknya. Bukan karena sakit, bukan karena kecelakaan. Tapi karena helm taktikal yang diayunkan ke kepala bocahnya oleh oknum Brimob. Arianto Tawakal, 14 tahun, berboncengan motor dengan kakaknya, melaju di jalan yang setiap hari dilaluinya. Lalu tanpa peringatan, tanpa prosedur, Bripda Masias Siahaya mengayunkan helm ke kepalanya. Satu pukulan. Arianto jatuh ke aspal dan tak pernah bangun lagi. Kakaknya yang masih 15 tahun menjerit memegangi tangannya yang patah. Di rumah, ibunya menunggu dengan makanan hangat yang tak akan pernah disentuh anaknya. Ini bukan pertama kalinya. Kita sudah melihat Gamma di Semarang, Afif di Padang, dan kini Arianto di Tual. Pola yang sama: anak-anak pulang sekolah, aparat bertindak brutal, nyawa melayang, lalu institusi mengeluarkan pernyataan belasungkawa dan janji investigasi yang tak pernah tuntas. Seperti kaset rusak yang diputar berulang. Dua puluh delapan tahun reformasi Polri digembar-gemborkan. Dua pulu...
