GUBUK MERAH MUDA
Ah, suara ramai itu. Dari pertigaan jalan aku mendengarkan suara ramai dan hangat. Aku menyipitkan mata agar dapat melihat siapa saja yang berada di dalam gubuk merah muda yang berdiri kokoh di ujung jalan itu. Dari dalamnya mengalir suara tawa yang membuat dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Hatiku selalu berkata ayo ikut, namun selalu ada suara lain yang menjawab . “Ndak ah. Kalau sesakku kambuh bagaimana?” “Kalau nanti mereka harus repot mengurusku?” “Aku sudah terlalu sering melihat wajah khawatir orang-orang ketika napasku mulai memburu” . Batinku Karena itu aku memilih berdiri di kejauhan. Lebih mudah menjadi penonton daripada menjadi seseorang yang harus ditolong. Lebih mudah mengagumi hangatnya keramaian daripada masuk ke dalamnya. Aku hanya berdiri di balik semak. Menjadi penonton bagi kebahagiaan orang lain. Sampai suatu sore seseorang mengagetkanku. "Heh, ngapain? Ayo ikut!" Aku terlonjak. "Astaghfirullah, ngageti a...


