GUBUK MERAH MUDA

 


Ah, suara ramai itu.

Dari pertigaan jalan aku mendengarkan suara ramai dan hangat. Aku menyipitkan mata agar dapat melihat siapa saja yang berada di dalam gubuk merah muda yang berdiri kokoh di ujung jalan itu. Dari dalamnya mengalir suara tawa yang membuat dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Hatiku selalu berkata ayo ikut, namun selalu ada suara lain yang menjawab .

“Ndak ah. Kalau sesakku kambuh bagaimana?”

“Kalau nanti mereka harus repot mengurusku?”

“Aku sudah terlalu sering melihat wajah khawatir orang-orang ketika napasku mulai memburu”. Batinku

Karena itu aku memilih berdiri di kejauhan. Lebih mudah menjadi penonton daripada menjadi seseorang yang harus ditolong. Lebih mudah mengagumi hangatnya keramaian daripada masuk ke dalamnya. Aku hanya berdiri di balik semak. Menjadi penonton bagi kebahagiaan orang lain. Sampai suatu sore seseorang mengagetkanku.

 

"Heh, ngapain? Ayo ikut!"

Aku terlonjak.

"Astaghfirullah, ngageti ae!" Jawabku

Dia tidak menjawab. Dengan ekspresi datar, pemuda berkacamata itu berjalan menuju bangunan merah muda tersebut lalu berteriak,

"Woi cah,ono sek ngintip!"

Seketika suara tawa berhenti. Semua orang menoleh ke arah telunjuknya. Ya. Dia menunjukku. Aku ingin tanah terbuka dan menelanku hidup-hidup, malu benar – benar malu. Siapapun tolong aku…

Hari berikutnya aku kembali memandangi bangunan itu, namun kali ini berbeda. Sepi, sunyi pintunya tertutup rapat. Tidak ada motor yang terparkir sembarangan. Tidak ada suara tawa, tidak ada keributan kecil yang biasanya terdengar hingga ke pertigaan jalan. Aku kecewa, aku bertanya pada diriku sendiri

“Mosok tiba – tiba sepi cuma gara – gara aku ngintip”

Aku memutuskan berbalik untuk pulang sambil memikirkan aku akan makan apa hari ini, tapi tiba – tiba wajah  yang sama kembali muncul tepat di hadapanku.

"Ya Rabb, koe meneh!"

Aku memegang dada sambil sedikit berteriak karena seseorang yang aku temui kemarin sudah berada dibelakangku.

"Seneng banget sih ngageti."

Aku sedikit kesal karena kali ini aku benar – benar dibuat hampir jantungan akan kehadiranya. Dia menyodorkan selembar kertas. Tidak besar, mungkin hanya setengah kertas HVS, di bagian atasnya tertulis: MENERIMA ANGGOTA BARU

"Mereka lagi buka stand di kampus, kalau mau gabung, datang aja ke sana."

Aku menerima kertas itu sembari memperhatikan dia yang berjalan gontai menuju ‘gubuk merah muda’ itu. Dia membuka pintu bangunan tersebut sebelum dia benar – benar masuk dan berteriak

"Daripada neng kono koyo maling."

"Ih, maling. Kurang ajar." Jawabku lirih

Dia masuk dan menutup pintu Kembali. Aku mendecih kesal meskipun kalau dipikir-pikir, memang benar aku selalu bersembunyi di balik semak seperti seseorang yang sedang menguntit kebahagiaan orang lain.

Malam itu aku memandangi selebaran tersebut cukup lama dan sepanjang malam aku hanya  bertengkar dengan pikiranku sendiri ‘Aku ikut ndak yo?’.

Tiga hari setelah kejadian itu aku berdiri di depan stand penerimaan anggota. Beberapa mahasiswa berdiri di bawah bendera kuning besar dengan lambang perisai yang tidak terlihat tidak asing. Mereka tersenyum kepada siapa saja yang lewat. Bahkan tak jarang mereka juga menyapa dengan berbincang kecil kepada mahasiswa baru yang ingin memulai perkuliahanya

"Ayo ikut, Mbak. Tak jamin seru." Itu ucap mereka

Aku tersenyum lalu melanjutkan perjalananku menuju kelas. Besoknya aku melewati stand itu lagi dan besoknya lagi. Terus berulang sampai akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada seorang perempuan kecil berkulit kuning langsat dan mengenakan jilbab pashmina, dia nampak tersenyum kecil ke arahku, aku bisa membaca dengan jelas pada name tag yang tergantung di bajunya, Ainun.

"Mbak, cowok berkacamata yang rambutnya rapi itu kok nggak ke sini?"

"Emm… yang mana?" dia menjawab dengan penuh hati – hati

“kurang tahu mbak, dia pakai baju rapi rambutnya selalu di pomade pakai tas ransel hitam mmm jam tanganya rantai berwarna perak”. aku Kembali menyebutkan ciri – ciri lelaki yang hampir membuatku jantungan tempo hari.

“oh mas hanan ya?, dia ada di pos lagi ada rapat”

Jadi itu Namanya,Hanan.

"Pos?".  tanyaku bingung

"Haha belum tau ya?... itu Lho, bangunan merah muda dekat pertigaan sana yang dekat warung pecel itu."

Aku terdiam. Oh Jadi bangunan yang selama ini kupandangi itu disebut pos. Tempat asal suara tawa yang sering kudengar, tempat yang selama ini hanya berani kulihat dari balik semak.

Hari itu aku mengisi formulir. Tanganku gemetar saat menuliskan nama. Dan tanpa kusadari, sejak hari itu aku tidak lagi berdiri di luar pagar. Aku masuk melalui pintu depan.

Aku bergabung dengan organisasi itu. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menjadi orang yang hanya mendengar suara ramai dari kejauhan.  Aku berada di dalamnya, mengenal nama-nama yang dulu hanya berupa suara, mengenal orang-orang yang dulu hanya kulihat sebagai bayangan di balik jendela pos. Aku ikut tertawa, Ikut begadang, Ikut membersihkan pos, Ikut pulang larut malam, Ikut merasa memiliki.

Pada masa menjadi anggota, semuanya terasa baik-baik saja bahkan menyenangkan. Aku menemukan teman-teman baru, menemukan keluarga baru, tempat yang selama ini tanpa sadar kucari.

Gubuk merah muda itu perlahan menjadi rumah keduaku. Tempat pulang setelah hari yang melelahkan. Tempat bercerita ketika kepala terasa penuh. Tempat tertawa tanpa harus berpura-pura baik-baik saja. Saat itu aku berpikir kebahagiaan akan berlangsung selamanya. Ternyata aku salah…

Semua itu berhenti ketika aku menjadi pengurus.

Waktu tiba menjadi pengurus, aku mulai melihat hal-hal yang dulu tidak terlihat oleh seorang anggota. Bisik-bisik setelah rapat, percakapan yang berhenti ketika seseorang datang ,nama-nama yang berpindah dari satu mulut ke mulut lain, orang-orang yang saling merangkul ternyata juga bisa saling melukai.

Awalnya aku hanya mendengar lalu ikut menanggapi kemudian ikut mempercayai sampai tanpa kusadari aku juga menjadi bagian dari lingkaran itu. Aku juga pelaku.

Barangkali setiap orang merasa dirinya benar sebelum suatu hari duduk di kursi terdakwa. Dan hari itu akhirnya datang kepadaku. Orang-orang yang dulu tertawa bersamaku mulai menjaga jarak, percakapan berhenti ketika aku datang aku disudutkan, aku dikelilingi oleh sepi yang lebih menyakitkan daripada kesendirian yang pernah kurasakan sebelum mengenal mereka.

Namun roda organisasi terus berjalan, reorganisasi semakin dekat. Sementara banyak orang sibuk menghitung peluangnya masing-masing, aku sibuk menghitung apa yang masih bisa diselamatkan. Aku mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak kumiliki, aku membeli apa yang kurang. aku membayar apa yang belum mampu dibayar.

Meninggalkan waktu istirahat demi memastikan semuanya tetap berjalan. Kadang aku pulang ketika langit hampir terang bahkan bisa sampai tidak pulang sama sekali.

Semakin banyak yang kukorbankan, semakin sedikit orang yang mengerti. Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku sedang menjaga rumah ini? Ataukah rumah ini sedang menghabiskan diriku sedikit demi sedikit?

Namun setiap kali ingin menyerah, aku teringat diriku yang dahulu. Seorang gadis yang berdiri di balik semak hanya untuk mendengar suara tawa dari kejauhan. Dan aku memilih bertahan.

Kini aku berdiri di penghujung periode. Gubuk merah muda itu masih berdiri di tempatnya. Catnya mulai memudar, sebagian nama yang dulu memenuhi ruangan ini telah pergi ,sebagian lainnya tinggal menjadi cerita. Dulu aku mengira keluarga adalah tentang banyaknya orang yang berada di sekeliling kita, ternyata bukan.

Keluarga adalah seleksi alam yang perlahan menyisakan mereka yang memilih bertahan. Mereka yang masih tinggal ketika keadaan tidak lagi menyenangkan. Mereka yang tetap menggenggam tanganmu ketika yang lain memilih pergi.

Karena itu kepada adik-adik yang datang setelahku, aku selalu berpesan: Peganglah siapa pun yang datang, buat mereka merasa diterima. Sebab tidak semua orang bertahan karena organisasi ini besar. Mereka bertahan karena menemukan satu orang yang membuatnya merasa pulang.

Di penghujung perjalanan ini aku akhirnya memahami satu kata yang dulu sering kudengar tetapi tidak pernah benar-benar kupahami. “Khidmah”. Ia bukan tentang jabatan. Bukan tentang nama yang tertulis dalam struktur. Khidmah adalah tetap mengabdi bahkan ketika tidak ada yang melihat, tetap berjalan bahkan ketika tidak ada yang berterima kasih.

Dari perjalanan ini aku belajar sabar, dari luka-luka yang kuterima aku belajar Ikhlas, dan keduanya ternyata tidak pernah mudah.

Sore itu aku duduk sendirian di teras gubuk.

"Pikiranmu adoh banget."

Aku menoleh. Mas Hanan duduk di sampingku, seperti biasa ,datang tanpa suara.

"Aku capek, Mas."

"Hm." Jawabnya diam

"Kadang aku mikir, kenapa dulu aku gabung."

Untuk beberapa saat ia tidak menjawab, Kemudian tersenyum kecil.

"Coba kalau dulu kamu ndak gabung."

Aku lagi - lagi menoleh.

"Ndak mempelajari itu semua."

Aku diam.

"Coba kalau dulu kamu tetap berdiri di balik semak."

Angin sore berembus pelan melewati halaman.

"Kamu ndak bakal tahu rasanya punya keluarga di luar rumah.” Ia menunjuk halaman gubuk.

"Kamu ndak bakal tahu rasanya berjuang buat sesuatu."

Kemudian menunjuk dadaku.

"Dan kamu ndak bakal tahu seberapa kuat dirimu sendiri."

Aku memandangi halaman yang mulai sepi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sedang menghitung siapa yang mengecewakanku. Aku justru mengingat siapa saja yang bertahan. Dan ternyata jumlahnya cukup.

Dua puluh dua tahun bukan usia yang terlalu tua untuk manusia. Namun cukup untuk membuatku tersenyum saat mengingat gadis semester satu yang berdiri di balik semak itu. Gadis yang takut sesaknya kambuh, gadis yang takut merepotkan orang lain, gadis yang hanya berani mendengarkan suara tawa dari kejauhan.

Jika hari ini aku dapat menemuinya, mungkin aku hanya akan mengatakan satu hal: Masuklah, kamu akan terluka, kamu akan kecewa bahkan akan menangis lebih dari sekali, tetapi kamu juga akan menemukan rumah. Dan untuk beberapa hal dalam hidup, itu sudah lebih dari cukup.

Aku tersenyum memandangi pos merah muda itu, tempat yang mengajariku tentang manusia, tentang kehilangan, pengabdian, bertahan, dan tentang pulang. Sebab pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Seperti kata yang sering kudengar sejak dulu: "Kesusu ngoyak opo, alon-alon ngenteni sopo." Karena hidup bukan tentang siapa yang berlari paling cepat. Melainkan tentang siapa yang tetap berjalan, meski berkali-kali ingin berhenti.

Dari Penulis : Aku mencurahkan segala kegundahan dan perasaan yang selama ini tersimpan melalui tulisan ini. Tulisan ini juga menjadi ruang untuk menata kembali berbagai hal yang pernah singgah dalam perjalanan hidupku. Aku ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang pernah terluka oleh lisan atau sikapku. Sementara itu, kepada mereka yang pernah meninggalkan luka namun tidak pernah menyampaikan kata maaf, aku telah memilih untuk menuntaskan semuanya. Tidak lagi untuk disesali, tidak lagi untuk dipertanyakan. Kepada pemilik NIM 45 yang tanpa lelah mendorongku untuk menyelesaikan cerpen ini, terima kasih atas kepercayaanmu, dan tempat pulang. Terima kasih juga kepada kedua orang tua yang selalu memberikan doa dan dukungan, serta kepada setiap pembaca yang telah meluangikan waktu menikmati cerpen ini. Semoga kebaikan, kebahagiaan, dan kemudahan senantiasa menyertai langkah kalian.

Penulis : Icha 

 

Komentar

Postingan Populer