PUKULAN HELM YANG MENAMPAKKAN WAJAH ASLI INSTITUSI
Sore itu di Tual, seorang ibu kehilangan anaknya. Bukan karena sakit, bukan karena kecelakaan. Tapi karena helm taktikal yang diayunkan ke kepala bocahnya oleh oknum Brimob. Arianto Tawakal, 14 tahun, berboncengan motor dengan kakaknya, melaju di jalan yang setiap hari dilaluinya. Lalu tanpa peringatan, tanpa prosedur, Bripda Masias Siahaya mengayunkan helm ke kepalanya. Satu pukulan. Arianto jatuh ke aspal dan tak pernah bangun lagi. Kakaknya yang masih 15 tahun menjerit memegangi tangannya yang patah. Di rumah, ibunya menunggu dengan makanan hangat yang tak akan pernah disentuh anaknya.
Ini bukan pertama kalinya. Kita sudah melihat Gamma di Semarang, Afif di Padang, dan kini Arianto di Tual. Pola yang sama: anak-anak pulang sekolah, aparat bertindak brutal, nyawa melayang, lalu institusi mengeluarkan pernyataan belasungkawa dan janji investigasi yang tak pernah tuntas. Seperti kaset rusak yang diputar berulang.
Dua puluh delapan tahun reformasi Polri digembar-gemborkan. Dua puluh delapan tahun kita disuruh percaya bahwa perubahan sedang terjadi. Tapi faktanya? Kultur kekerasan masih mengakar. Arogansi masih membusuk di setiap level. Sistem rekrutmen dan pendidikan gagal menanamkan nilai-nilai HAM. Pengawasan internal buta dan tuli. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada satu pun petinggi yang cukup bertanggung jawab untuk meletakkan jabatan demi membangun institusi dari awal.
Mereka bilang ini ulah oknum. Tapi kalau sistemnya membiarkan oknum-oknum itu lahir, direkrut, dididik, dan bertugas tanpa pengawasan maka itu bukan lagi soal oknum. Itu soal institusi yang gagal total.
Kami, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Sutawijaya, dengan ini mengutuk keras tindakan biadab oknum Brimob Bripda Masias Siahaya yang telah merenggut nyawa Arianto Tawakal.
Tindakan ini tidak bisa dibenarkan dengan dalih apa pun. Seorang anak yang baru pulang sekolah telah menjadi korban kebrutalan oknum yang seharusnya melindungi masyarakat. Kami mendesak aparat penegak hukum untuk memproses pelaku secara maksimal dengan pasal berlapis dan menuntut hukuman seumur hidup, bukan sekadar pemecatan yang tidak memberi efek jera. Kami juga mendesak institusi Polri untuk segera mengevaluasi total sistem rekrutmen, pendidikan, dan pengawasan internal agar tragedi serupa tidak terulang lagi.
Arianto sudah pergi. Yang tersisa hanya seragam berlumur darah dan seorang ibu yang setiap malam duduk diam di kursi, memandangi baju anaknya, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Tapi ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan selama kami masih punya suara, kami tidak akan diam.
Untuk Arianto,Gamma, Afif, dan untuk semua anak bangsa yang tak sempat pulang. Hanya ada satu kata, lawan.
PMII Rayon Sutawijaya Mengutuk Keras dan Mendesak Keadilan !
Penulis: Yusril Akbar Izzul Khaq (Koor Biro Wacana & Keilmuan)

Komentar
Posting Komentar